Bangunan Masa Pra Sejarah

MASA PRASEJARAH

Masa prasejarah di tatar sunda dimulai pada masa plestosen kira-kira, juta tahun yang lalu hingga awal abad ke-5 Masehi. Pengamatan terhadap tinggalan budaya manusia pada masa prasejarah melalui pendekatan sosial ekonomis, memperhatikan bahwa perkembangan budaya yang menyertai perkembangan fisik manusia di Indonesia telah melampaui tiga tingkatan penghidupan yaitu masa berburu dan mengumpulkan makanan, masa bercocok tanam dan masa kemahiran teknik yang dicirikan oleh berbagai hasil budaya yang mewakili jamannya.

Pengungkapan tentang kehidupan masa berburu dan meramu makanan di Kabupaten Lebak, saat ini belum dapat diungkapkan secara ituh karena temuan budaya yang in situ dan satu konteks dengan manusia pendukungnya belum ditemukan. Kendati demikian, peralatan batu berupa fragmen alat batu belum lama ini ditemukan di Situs Curugbitung khususnya di Situs Buyut Mangeunteung. Temuan alat batu itu merupakan temuan permukaan yang ditemukan bersama-sama dengan fragmen keramik. Di situs itu ditemukan juga fosil kayu, fosil kerang air tawar, meja batu, menhir terbuat dari fosil kayu. Penelitian tersebut dilakukan oleh tim peneliti Balai Arkeologi Bandung pada tahun 5 dan sampai saat ini masih berlangsung. Di situs Curugbitung, selain temuan prasejarah juga ditemukan makam-makam Islam.

Seiring dengan semakin berkembangnya tingkat pengetahuan manusia, mereka mulai mengenal budaya bercocok tanam dimuali kira-kira bersamaan dengan berkembangnya kemahiran (mengasah) alat-alat batu seperti beliung dan kapak batu, mata tombak dan mata panah sebagai alat berburu. Lambat laun seiring dengan majunya peradaban manusia yang cipicu oleh berkembangnya tingkat pengetahuan masyarakat dan penguasaan teknologi terutama pengolahan alat-alat batu untuk keperluan hidup sehari-hari, melahirkan berbagai pembaharuan.

Pemikiran tentang terjadinya alam di sekitar mereka, memunculkan rasa hormat dan kepercayaan lain di luar kemampuan manusia yaitu animisme dan dinamisme. Kepercayaan ini pada perkembangan selanjutnya melahirkan rasa hormat kepada orang-orang yang berjasa yaitu kepala suku atau nenek moyang mereka yang diikuti oleh pendirian bangunan batu sebagai lambang penghormatan dan media pemujaan. Hasil budaya masa itu dikenal dengan budaya neolitik dan megalitik. Budaya neolitik mditandai dengan berbagai bentuk alat seperti beliung persegi dari jenis batuan kalsedon, jaspis dan rijang, perhiasan (gelang batu) dan pengasah batu. Sementara budaya megalitik ditandai dengan berbagai bentuk bangunan seperti menhir, bangunan teras berundak, kubur batu, dolmen, sarkofagus, lumpang batu dan arca batu.

Kehidupan budaya pada masa bercocok tanam di Kabupaten Lebak terutama budaya megalitik dapat dijelaskan melalui hasil budayanya. Situs Arca Domas (Leuwidamar), Lebak Cibedug (Citorek), Kosala (Cipanas) dan Gunung Dangka (Cilangkahan) merupakan kabuyutan yang saling berkesinambungan. Situs Arca Domas dengan masyarakat Baduy (Kanekes) merupakan acuan dari sebuah pemukiman megalitik pada masa lalu. Demikian juga dengan situs Lebak Cibedug yang dapat dijadikan acuan untuk merekonstruksi sebuah pemukiman pada masa itu. Melalui penemuan batu tukuh di sekitar, dapat diperkirakan bagaimana sebuah perkampungan dibuka. Tradisi ini didukung oleh adanya kebiasaan warga kampung di sekitar “batu tukuh” yang telah beberapa kali berpindah tempat di sekitar situs Lebak Cibedug. Biasanya perpindahan kampung ini berdasarkan wangsit yang diterima pemangku adat dari Kasepuhan Adat bersangkutan, Kasepuhan Ciptagelar (Sukabumi) salah satu kasepuhan yang tergabung dalam Kesatuan Ada Baten Kidul. Situs Kosala merupakan acuan lain dari sebuah situs upacara pemujaan yang sampai saat ini masih dilakukan masyarakat Baduy Karang. Situs Gunung Dangka yang terletak di puncak Gunung Dangka, merupakan acuan pemujaan bagaimana konsep “ngahyang” itu terjadi. Situs sejenis itu ditemukan juga pada situs Gunung Luhur Jaya (Cipanas). Situs lainnya adalah Curugbitung dimana temuan megalitik bercampur dengan makam-makan Islam.

MASA HINDU BUDHA

Masa prasejarah berakhir pada abad ke-5 Masehi dengan ditemukannya tujuh buah prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara. Penemuan itu tidak berarti semua daerah di Tatar Sunda mengalami masa sejarah. Di sebagian besar wilayah sangat mungkin masih berada pada tahapan budaya prasejarah terutama budaya megalitik.

Mundandar berpendapat bahwa bangunan keagamaan di Tatar Sunda dari masa Hindu Budha dikelompokkan dalam tiga bagian, yaitu :

  1. Bangunan teras berundak dua, tiga atau lebih dengan ciri utama undakan berupa susunan batu kali atau balok batu dan memiliki tangga antar teras; di teras teratas diletakkan lingga atau arca dewa lainnya.
  2. Berupa sebuah batur tunggal yang hanya terdiri dari satu batur, memiliki tangga atau tidak; di tengah-tengah baturditempatkan lingga atau arca dewa lainnya.
  3. Bangunan pertapaan yang belum dikenal secara pasti, berupa gua alam atau gua buatan serta bangunan suci terbuat dari bahan yang mudak lapuk.

Hasil penelitian itu menunjukan bahwa bangunan suci pada masa ini terbagi atas tiga bentuk, yaitu bangunan batur tunggal, bangunan teras berundak dan bangunan altar.

Di Kabupaten Lebak, Situs Kosala (Cipanas) dan Lebak Cibedug (Cibeber) merupakan contoh dari bangunan teras berundak yang digunakan kembali pada masa kemudian (multi component sites). Sementara itu, situs Gunung Julang atau Ciwongwongan (Cipanas) dari masa Hindu Budha merupakan salah satu bentuk bangunan batur tunggal. Sementara wilayah Kanekes diduga menjadi salah satu mandala Kerajaan Sunda, yang dibangun pada masa pemerintahan Rakeyan Darmasiska (1175-1297 M).

TINGGALAN ARKEOLOGI

Sebagaimana telah disebutkan pada bagian terdahulu, tinggalan budaya Kabupaten Lebak bercorak tradisi megalitik. Pada masa itu ttradisi pendirian bangunan megalitik didasari oleh kepercayaan bahwa sorang pemimpin atau leluhur yang telah mati tetap berpengaruh terhadap kesuburan tanaman dan kesejahteraan masyarakat yang ditinggalkan. Jasa dari kerabat yang telah mati itu diabadikan dengan mendirikan bangunan batu besar, yang kemudian menjadi media penghormatan, tempat singgah dan sekaligus menjadi lambang dari si mati.

Pada kenyataannya tinggalan budaya megalitik tidak selalu bangunan batu besar. Dibeberapa situs megalitik ditemukan bangunan yang terbuat dari batu berukuran kecil. Oleh karena itu seharusnya bangunan itu dimasukkan dalam kelompok budaya megalitik, dengan catatan dimanfaatkan untuk tujuan sakral, khususnya sebagai media pemujaan arwah nenek moyang. Pada umumnya, peninggalan tradisi megalitik erat kaitannya dengan kegiatan bercocok tanam.

 sumber : van der Hoop, 1932 dengan sedikit perubahan

Lokasi Situs Arca Domas, Lebak Cibedug, Kosala dan Gunung Dangka

Bangunan teras berundak di Kabupaten Lebak yang terbilang penting karena keunikannya antara lain situs Arca Domas (Kanekes), situs Kosala (Lebak Gedong), situs Lebak Cibedug (Citorek) dan situs Gunung Dangka (Gunung Dangka). Situs-situs ini merupakan situs megalitik yang digunakan kembali pada kemudian.

Temuan lainnya yaitu situs Curugbitung (Kecamatan Curugbitung), sampai saat ini masih diteliti oleh Balai Arkeologi Bandung, hingga kajian terbatas pada data yang ada saat ini. Berikut adalah uraian dari beberapa tinggalan budaya pada masa prasejarah :

1.   Situs Arca Domas

Situs Arca Domas disebut juga Sasaka Pada Ageung atau Sasaka Pusaka Buana terletak di Kampung Cikeusik Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar. Situs ini berada di atas bukit Pamuntulan di hulu sungai Ciujung, tepatnya pada suduk kelokan sungai yang membelok dari tenggara ke arah timur pada lereng tepian tepian sungai sebelah utara, di sisi barat pegunungan Kendeng. Situs ini merupakan daerah yang disucikan oleh masyarakat Kanekes dan terlarang bagi orang luar. Situs ini merupakan bangunan teras berundak berbentuk piramida, terbuat dari susunan batuan andesit, terdiri dari tujuh teras dengan arah hadap utara – selatan. Susunan undakana menyerupai petak-petak sawah, sebagian besar pembatas undakan sudah tidak jelas karena batuan penyusunnya sudah lepas. Areal situs lembab dan terkesan angker.

Dijelaskan dari tigabelas undakan itu dimaksudkan sebagai simbol tahapan yang harus ditempuh oleh roh nenek moyang untuk mencapai langit. Roh itu memulai perjalanannya dari undakan paling bawah menuju undakan kedua dan telah melalui proses pensucian yang dilakukan di Lumpur Sibalagadagama, sehingga dengan melalui undakan-undakan selanjutnya roh akan bersatu dengan Batara Tunggal penguasa langit dan bumi yang bersemayam di puncak undakan.

Upacara muja di Arca Domas dimulai pada tanggal 16, 17, 18 bulan Kalima. Pada pagi hari tanggal 16 Puun Cikeusik disertai baris kolot berangkat menuju talahab, yaitu dangau-dangau (saung) terbuat dari bambu dan beratapa rumbia yang sudah disiapkan sebelumnya. Tanggal 17 mereka mandi (mensucikan diri) di sungai Ciujung dan baru kemudian menuju ke Arca Domas dari sisi utara.

Pada undakan pertama pada teras I mulailah puun memimpin upacara muja menghadap ke arah pincak dengan membaca mantra dan doa-doa tertentu. Pada Teras VII, mereka mencci muka, tangak dan kaki di sanghyang Pangumbahan. Lumpang batu itu menjadi sumber alamat karena bila saat ditemukan dalam keadaan penuh dan bening, itu mengisyaratkan akan banyak hujan, iklim baik dan panen berhasil. Sebaliknya bila dangkal dan keruh merupakan alamat kekeringan dan kegagalan panen.

Dari Sanghyang Pangumbahan mereka menuju pincak punden tempat menhir dan Arca Domas berada. Mereka melihat menhir dan arca itu dengan perasaan cemas. Bila menhir dan arca itu tertutup lumut, pertanda kesejahteraan dalam tahun itu, sebaliknya bila tidak tertutup lumur, berarti batara sataranjang (batara telanjang), suatu pertanda akan tertimpa kesusahan dan bencana. Lumut disebut komala (permata) dan biasa dibawa pulang untuk berkah bagi mereka yang memerlukan. Kegiatan membersihkan sasaka dalam naskah Sanghyang Siksakandang Karesian disebut Ngomean Sang Hyang.

Selesai acara di puncak punden mereka turun, sampai di teras II mereka melakukan pula lagi dan mengikrarkan tetap setia pada agama Sunda (Wiwitan) dan akan menjauhi agama Islam. Pengikraran ini sangat mungkin berlaku setelah Kerajaan Sunda runtuh dan agama Islam sudah menyebar ke masyarakat sekitar. Undakan kedua bagian utara disebut lemah bodas (tanah putih). Lemah bodas dan komala merupakan tanda berkah yang akan diberikan kepada mereka yang memintanya pada saat turun muja.

2.  Situs Kosala (Lebak Sangka)

Situs Kosala terletak di Kampung Boongsarung Desa Lebak Gedong Kecamatan Cipanas. Situs ini dibangun di sebuah hutan bambu pada puncak bukit Pasir Sangka (Gunung Kosala) diantara dua aliran sungai yaitu sungai Cipamali dan sungai Cibaduy. Situs Kosala berbentuk bangunan teras berundak terdiri darilimateras, terbuat dari batuan andesit dengan arah hadap barat laut – tenggara, menyerupai piramida. Teras-teras bangunan berundak Kosala disusun melingkar mengikuti kontur bukit dan setiap teras memiliki altar-altar dengan berbagai bentuk.

Sumber : van Tricht, 1929

Sketsa Situs Kosala

Temuan yang bisa diidentifikasi adalah sebuah altar berupa susunan batu datar dengan sebuah menhir besar dalam keadaan setengah rubuh, tertanam di tengah tumpukan batu.

Altar (Batu Datar dan Menhir)

Altar lainnya berupa susunan batu datar berbentuk memanjang dengan sebuah singgasana batu. Sandaran singgasana batu berbentuk segilima, saat ini dalam keadaan miring. Penduduk setempat menyebut altar itu leluhur Menes.

Altar (Leluhur Menes)

Altar berikutnya berupa sebaran batuan, sandaran singgasana batu berbentuk segilima yang setangahnya tertanam di dalam tanah, dan menhir-menhir sebagian setengah tertanam di dalam tanah sebagian lagi rubuh. Penduduk menyebut altar itu leluhur Bongbang.

Altar (Leluhur Bongbang)

0

Altar (Leluhur Sobang)

Beberapa temuan yang masih dapat diidentifikasi adalah altar berupa susunan batu andesit dengan menhir dan lingga semu diantaranya. Sebagian bati terbenam di dalam tanah sehingga bentuk altar ini belum diketahui, altar ini disebut Leluhur Sobang.

oo

Temuan lainnya adalah susunan batu temu gelang (stone enclosure) berupa susunan batu andesit yang disusun melingkar. Di dalam lingkaran itu terdapat empat buah menhir dengan susunan batu datar dan lingga semi ditengahnya. Penduduk menyebutnya sebagai Leluhur Parahyang.

oo

-o0o-

Altar (Leluhur Pangawinan)

oo0

Batu-batu Pelor dan Menhir

Altar lainnya berupa susunan batu datar dengan lingga semu yang dikelilingki oleh batu pelor. Batu-batu pelor itu juga terdapat di sekitar altar, sehingga penduduk setempat menyebut altar itu Leluhur Pangawinan. Di sekitar altar (Leluhur Pangawinan) terdapat susunan batu datar dengan menhir-menhir yang tergeletak di antaranya. Diatas beberapa batu datar itu terdapat batu-batu pelor, selain itu menurut kuncen situs di sekitar lokasi altar (Leluhur Pangawinan) terdapat Cikahuripan atau Gelemeng Hideung. Lokasi tepatnya tidak diketahui karena tempat ini dirahasiakan oleh orang Baduy Karang.

- o0-

Beberapa temuan yang dapat diidentifikasi adalah sandaran-sandaran singgasana batu berbentuk segilima yang tergeletak di antara susunan batuan andesit. Sebuah menhir terletak di belakang sandaran singgasana batu itu. Penduduk setempat menyebutnya Sajira Hilir.

oo

oo

Talahab terbuat dari bambu, saat ini masih digunakan oleh orang Baduy Karang dalam kunjungan mereka untuk memuja setiap tahun pada tanggal 14 bulan Syawal. Diantara reruntuhan talahabterlihat sebaran batuan andesit dan menhir-menhir setengah rubuh.


o

o

Pada teras ini terdapat altar-altarberbentuk singgasana batu dengan sandaran batu berbentuk segilima dan sebuah pemandian (kulah). Di sekitar pemandian terdapat sebaran batuan andesit dan menhir dalam keadaan miring. Pada saat ini keadaan teras sudah hancur dan batuan pembatas teras serta tangga sudah acak.

-o0o-

Altar lain berupa susunan batu datar dengan sebuah singgasana batu dalam ukuran besar. Altar ini berada pada lahan yang lebih tinggi dari permukaan tanah, terletak tidak jauh dari Sajra Hilir. Penduduk setempat menyebut altar itu Sajra Girang.

oo000

Altar berupa susunan batu datar berbentuk singgasana batu dalam ukuran besar. Sandaran singgasana batu berbentuk segilima dan di atas batu datar (tempat duduk) terdapat batu-batu pelopor. Batu-batu pelopor ini juga diletakkan pada batu-batu datar yang terletak di lantai altar. Penduduk setempat menyebutnya Tempat Musyawarah.

-o0o-

Altar lainnya berupa susunan batu datar dengan sebuah singgasana dalam ukuran lebih kecil dibandingkan dengan altar sebelumnya. Sandaran singgsasna batu terbilang unik karena sandaran utama berbentuk segilima dipadu dengan sandaran lain berbentuk sama dalam ukuran yang lebih kecil di kanan dan kirinya (seperti sayap) membentuk setengah lingkaran. Penduduk setempat menyebutnya altar Leluhur Parungkujang atau Prabu Siliwangi.

ppppp-o0o-

Selain bangunan berundak, di sekitar areal situs terdapat sebuah arca yang pada saat ini sudah hilang. Berdasarkan laporan Van Trich, arca itu terletak di sebuah lahan yang lebih tinggi dari permukaan tanah. Dia menduga bahwa arca itu adalah Budha dalam pahatan sederhana, dilihat dari sikap tangan (mudra) yang membentuk mudra tertentu. Arca tersebut merupakan penjelmaan dewa (nenek moyang) orang Baduy Karang yang disebut sebagai Resi Guru.

Tinggalan arkeologi di situs Kosala mengacu pada Kosala sebaga situs upacara, mulai dari masa megalitik (prasejarah) hingga masa Hindu Budha khususnya agama Hindu(Saiwa), bahkan pada pasa Islam. Sejumlah batu pelor yang diletakkan di atas singgasana batu “tempat musyawarah: di teras V dan batu datar di lantai teras menunjukkan makna batu pelor yaitu :

  • Batu pelor berjumlah 1 bermakna Tuhan Yang Masa Esa (Tunggal)
  • Batu pelor berjumlah 2 bermakna sesuatu yang bertolak belakang seperti siang dan malam, pria dan wanita
  • Batu pelor berjumlah 4 bermakna arah mata angin
  • Batu pelor berjumlah 5 bermakna Rukun Islam
  • Batu pelor berjumlah 6 bermakna Rukum Iman
  • Batu pelor berjumlah 7 bermakna jumlah hari dalam seminggu

Batu pelor pada masa megalitik (prasejarah merupakan simbol kurban (bisa binatang atau manusia) yang dibutuhkan dalam setiap upacara tergantun dari keinginan si pemuja. Menurut tradisi, pada awalnya situs merupakan tempat bertapa sekaligus tempat persembunyian Prabu Kian Santang ketika dikejar-kejar oleh putranya Raden Gagak Lumayung yang bermaksud mengislamkannya. Ia berperang sampai ke Batavia(Jakarta) terus ke Gunung Bongkong (Ciparasi, Lebak) lalu ke Baduy. Di Baduy ia membangun tiga perkampungan yaitu Cikeusik, Cibeo dan Cikertawana. Dari situ ke Batu Tulis (Bogor) dan bila menginginkan ia bisa ke Kosala melalui lorong panjang (masuk ke perut bumi) sampai ke sebuah lubang (sumur) yang disebut Gelemeng Hideung (Cikahuripan). Saat ini situs Kosala merupakan bangunan suci orang Baduy Karang yang datang memuja setiap tanggal 14 bulan Syawal untuk keperluan berladang (huma). Dalam kunjungan itu mereka datang dalam kelompok (8 orang) dengan membawa keris dan pedang pusaka mereka.

Selain itu situs Kosala merupakan tempat pertemuan tujuh orang leluhur yang dipercaya dapat membawa berkah bagi orang-orang yang menziarahinya. Ketujuh leluhur itu adalah Leluhur Parungkujang atau Prabu Siliwangi (bidang kepangkatan/jabatan), Leluhur Sajra atau Abuya Kayu Buyut Mangun Tapa (bidang keselamatan), Leluhur Menes atau Kyai Sapuling Sakti (bidang agama), Leluhur Pangawinan (bidang pertanian), Leluhur Parahyang (tempat para Hyang atau leluhur/dewa), Leluhur Sobang (tempat ziarah orang Baduy Karang) dan Leluhur Bonbgbang tidak boleh dikunjungi oleh orang yang beragama Islam. Situs ini terletak diantara dua sungai yaitu sungai Cipamali dan sungai Cibaduy yang mengairi kulah. Menurut kepercayaan, orang Baduy Karang yang akan menuju situs pada waktu muja, tidak boleh menginjak air sungai Cipamali karena air itu dianggap suci.

Pemujaan kepada tujuh leluhur itu diduga sesuai dengan fungsi tinggalan arkeologi teras demi teras yang tampaknya tidak mengacu pada perjalanan upacara seperti pada bangunan teras berundak laninnya yang berjalan dari teras satu hingga teras teratas sebagaimana situs Arca Domas di Baduy. Setiap teras mempunyai altar-altar yang berfungsi sesuai dengan maksud pemujaan. Dengan demikian agaknya setiap teras dengan altar-altarnya dapat menjadi tempat pemujaan yang berdiri sendiri sesuai dengan maksud si pemuja.

Singgasana batu yang sebagian besar mendominasi tinggalan budaya di situs Kosala dapat ditafsirkan sebagai “singgasana dewa atau leluhur”. Di tempat itulah para dewa atau leluhur “duduk” sementara pada saat upacara berlangsung.

3.   Situs Lebak Cibedug

Situs Lebak Cibedug terletak di Kampung Cibedug Desa Citorek Kecamatan Cibeber, termasuk dalam Kawasan Nasional Gunung Halimun. Kawasan Nasional Gunung Halimun ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 282/Kpts.11/1992 tanggal 28 Februari 1992 dengan luas 40.000 Ha. Areal situs terletak di lereng Pasir Manggu dengan luas sekitar 2 hektar.

Lingkungan alam Lebak Cibedug dari sisi barat 

Bangunan Teras Berundak Lebak Cibedug

Berdasarkan bentuk bangunan secara keseluruhan, situs Lebak Cibedug terdiri dari bangunan teras berundak, bangunan sumuran, bangunan menhir, batu bergores dan sebaran batu tukuh, dengan batas-batas situs sebagai berikut :

  •   Sebelah Utara berbatasan dengan Sungai Cibedug
  •   Sebelah Selatan berbatasan dengan Sungai Cibedug
  •   Sebelah Barat berbatasan dengan Sungai dan Kampung Cibedug
  •   Sebelah Timur berbatasan dengan Kampung Pasir Manggu

Bangunan Teras Berundak

Bangunan teras berundak dibangun 25 m di atas permukaan tanah dengan arah hadap barat timur, terdiri dari tiga teras utama yang terbuat dari bahan batuan andesit. Masing-masing teras memiliki bangunan berundak-undak. Teras pertama terletak di bagian barat, merupakan dataran yang paling rendah dan luas dibandingan dengan teras kedua dan ketiga. Teras kedua terletak di bagian tengah dan teras ketiga terletak di puncak bukit pada sisi timur bukit itu.

Sketsa Punden Berundak Lebak Cibedug

ooo

Tangga masuk menuju kompleks bangunan berada di tepi aliran Sungai Cibedug, terbuat dari susunan batu andesit dan bongkahan batu lempung sebanyak 33 anak tangga. Pada bagian awal tangga masuk terdapat lingga semu.

Tangga Masuk Lebak Cibedug

ooo

Bangunan ini dalam catatan Van der Hoop disebut bangunan empat batu (fourstone). Di ketiga sudutnya terdapat menhir-menhir kecil dan di sudut lainnya terdapat sebuah batu datar. Pada batu datar ini terdapat sejumlah mata uang logam yang diletakkan oleh para peziarah sebagai sesaji.

Bangunan Menhir

ooo

Pada areal tersebut ditemukan sebuah lubang sumuran yang berukuran diameter 50 cm dengan kedalaman 1 m.

Sumuran

ooo

Batu bergores ditemukan sekitar 20 m kearah timur dari bangunan teras berundak, terbuat dari bongkahan besar batu andesit, goresan yang sepintas mirip huruf (tulisan) ini terdapat pada bagian atas dan samping batu dalam keadaan sudah aus.

Batu Bergores

ooo

Batu Tukuh

Batu Tukuh tersebar di sebelas lokasi di sekitar situs Lebak Cibedug. Saat ini di sebelah barat situs terdapat dua perkampingan yaitu Kampung Cibedug dan Kampung Cikalahang. Masing-masing kampung ditandai dengan satuh batu tukuh. Batu Tukuh Lebak Cibedug 1 terletak di sebelah barat laut situs Lebak Cibedug, lebih kurang 43 m sebelah barat aliran Sungai Cibedug. Batu Tukuh ini terletak di tengah Kampung Cibedug bersisian dengan rumah kuncen situs, lebih kurang 50 m di sebelah timur aliran Sungai Cibedug.

Batu Tukuh Lebak Cibedug 1

ooo

Batu Tukuh Lebak Cibedug 2 terletak di sebuah bukit kecil, kira-kira 50 m di sebelah barat aliran sungai Cibedug. Bangunan ini brebentuk batur punden terbuat dari susunan batu andesit. Di bagian atas batur punden terdapat sebuah batu pelor.

Batu Tukuh Lebak Cibedug 2

Batu Tukuh Lebak Cibedug 3 terletak di sebelah timur areal pemakaman Kampung Cibedug, kira-kira 100 m di sebelah barat aliran Sungai Cibedug. Batu tukuh ini berupa dua buah menhir terbuat dari tufa berwarna putih yang diduga berdiri berpasangan dengan arah hadap barat timur.

Batu Tukuh Lebak Cibedug 3

Batu Tukuh Lebak Cibedug 4 terletak di sebelah timur Lebak Cibedug, di sebuah areal agak meninggi di lereng persawahan di dekat pertemuan aliran sungai Cianisah dan Sungai Cibedug. Sebagian besar areal situs tergerus oleh kegiatan persawahan. Ketergerusan areal situs ditandai oleh keletakan pohon panglai yang bersisian langsung dengan sawah. Secara keseluruhan batu tukuh itu sudah acak, tinggalan yang tersisa antara lain susunan batu pipih yang diduga berbentuk singgasana batu.

Batu Tukuh Lebak Cibedug 4

Batu Tukuh Cikatulampa terletak di sebelah barat situs Lebak Cibedug, di sebuah areal yang tidak diolah di sisi belakang halaman SD VI Cibedug atau di sebelah barat aliran sungai Cikatulampa.

Pada saat ditemukan situs ditutupi semak belukar, dari sebaran reruntuhan batu penyusun struktur di areal sekitar situs diketahui bahwa areal situs cukup luas. Hasil penelitian diketahui bahwa tinggalan disusun dari bongkahan batu andesit dan bongkahan tufa. Terdiri dari dua kelompok yaitu sebuah halaman persegi dan sebuah bangunan teras berundak terdiri dari tiga teras yang disusun semakin ke atas semakin mengecil, berorientasi barat timur.

Batu Tukuh Cikatulampa

Batu Tukuh Lebak Peuteuy terletak di sebelah timur Situs Lebak Cibedug, di sebuah arela kebun yang sudah tidak terurus di lignkungan kawasan persawahan, situs ini berbentuk bangun persegi disusun dari bongkahan batu andesit. Pada bagian dalam susunan terdapat sebuah menhir yang dikelilingi oleh batu datar.

Batu Tukuh Cikatulampa

Batu Tukuh Lebak Awikoneng terletak di sebelah timur situs Batu Tukuh Lebak Peuteuy, situs ini berada di areal perkebunan milik Bapak Asbaji. Pada saat ditemukan situs ditutupi oleh semak belukar. Situs ini berbentuk sebuah batur punden, terbuat dari susunan batu andesit, pada bagian atas batur terdapat 3 menhir, 1 lingga semu (rubuh) dan sebuah batu datar.

Batu Tukuh Cikatulampa

Batu Tukuh Lebak Cibanteng terletak di sebelah barat laut situs Lebak Cibedug, pada sebuah bukit kecil di sisis selatan aliran Sungai Cibanteng. Dikelilingi oleh areal persawahan yang berbatasan langsung dengan Kawasan nasional Gunung Halimun. Situs ini berbentuk punden berundak yang berorientasi barat – timur, sebagian besar struktur bangunan sudah rusak, yang tersisa adalah sisa struktur terbuat dari bongkahan batu andesit dan menhir (rubuh).

Batu Tukuh Lebak Cibanteng

Batu Tukuh Lebak Parakan Gunung terletak di sebelah timur laut situs Lebak Cibedug, berada di bagian puncak bukit kecil yang dikelilingi oleh areal persawahan. Saat ditemukan kawasan situs ini tertutup oleh semak belukar, bentuk tinggalan yang tersisa adalah bentuk struktur persegi, sisa dari sebuah bangunan punden berundak terdiri dari beberapa teras, tapi beberapa teras-teras itu sebagian besar telah hancur.

Bagian yang tersisa berupa undakan tanah dan sedikit bagian sisi dari susunan batu andesit. Pada bagian atas bangunan terdapat batu datar yang diapit oleh dua menhir (rubuh). Di sisi sebelah timur menhir terdapat sebuah bangun persegi yang terbuat dari susuna batu andesit.

Batu Tukuh Lebak Parakan Gunung

Bagian yang tersisa berupa undakan tanah dan sedikit bagian sisi dari susunan batu andesit. Pada bagian atas bangunan terdapat batu datar yang diapit oleh dua menhir (rubuh). Di sisi sebelah timur menhir terdapat sebuah bangun persegi yang terbuat dari susuna batu andesit.

Batu Tukuh Lebak Kalahang terletak di tengah perkampungan Lebak Kalahang, di sisi rumah Bapak Elang (sesepuh kampung), kira-kira 100 m di sebelah utara aliran Sungai Cikalahang. Areal situs berada lebih tinggi dari lahan pemukiman. Saat ini berada di bawah pohon beringin.

Batu Tukuh Lebak Kalahang

Batu Tukuh Lebak Kalahang berbentuk batur punden, susunan batu penyusun batur sudah hilang sehingga bentuk asli tidal dapat direkonstruksi. Di atas batur terdapat kumpulan menhir terbuat dari batu andesit dan sebuah batu pelor.

Batu Tukuh Lebak Muara Tilu terletak di sebuah bukit seluas kira-kira 0,5 Ha, di antara dua aliran sungai yaitu sebelah timur Sungai Cikatulampa dan sebelah utara Sungai Cikalahang. Secara umum merupakan tinggalan batu berdiri yang disusun berpasangan, membentuk bangun persegi berorientasi utara selatan, singgasana batu dan tumpukan bongkahan batu andesit berbentuk bulat. Tinggalan itu pada umumnya tertutup oleh semak belukar sehingga sulit untuk merekonstruksi bangunan tanpa membersihkan areal situs.

Batu Tukuh Lebak Muara Tilu

Pola hunian masa lalu dapat dipahami melalui pengamatan langsung terhadap perkampungan tradisional yang diperkirakan masih melanjutkan tradisi budayanya. Pola hunian antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya akan berbeda tergantung pada kemampuan adaptasi dan norma budaya yang dimiliki masyarakat tersebut.

Saat ini di sebelah barat situs Lebak Cibedug terdapat dua pemukiman yaitu Kampung Cibedug dan Kampung Cikalahang, masing-masing kampung ditandai oleh satu batur punden dengan batu datar dan menhir pada bagian atasnya. Tinggalan arkeologi ini disebut batu tukuh, yang berfungsi sebagai penada dari suatu pendirian kampung dan sekaligus sebagai pemberitahuan kepada masyarakat sekitar bahwa wilayah tersebut akan menjadi pemukiman. Dari data yang diperoleh, batu-batu tukuh itu berjumlah 11, letaknya tidak membelakangi bangunan teras berundak Lebak Cibedug dan letaknya lebih tinggi dari lahan rumah penduduk sekaligus berdekatan dengan lokasi rumah sesepuh adat, juga menempati lahan yang tidak jauh dari aliran sungai.

Penempatan kesebelas batu tukuh itu bisa diasumsikan bahwa pada masa lalu sudah terjadi 11 kali perpindahan kampung, hal itu mengacu pada kebiasaan adat Kasepuhan Ciptagelar (Sukabumi) yang sudah berpindah kampung sebanyak 11 kali.

Pengamatan terhadap bentuk bangunan Lebak Cibedug, diduga bangunan ini merupakan salah satu pusat upacara Kerajaan Sunda. Sebagai sebuahn pusat upacara termpat ini dikelola oleh petugas keagamaan yang ditunjuk oleh kerajaan, besar kemungkinan pemikiman Baduy khususnya Baduy Dalam merupakan perkampungan kaum agamawan. Dengan demikian pemukiman yang berada tidak jauh dari batu tukuh dianggap pemukiman kaum agamawan yang mengelola pusat upacara Lebak Cibedug.

4.   Situs Gunung Dangka

Situs Gunung Dangka terletak di puncak Gunung Dangka, Kecamatan Cilangkahan. Bentuk batur punden dengan sebuah arca dan lingga semu (batu sirit) di atasnya. Batur punden tersebut merupakan sebuah kabuyutan yang dipercaya sebagai tempat ngahyang, tempat “jiwa menuju surga”. Hutan Gunung Dangka merupakan “hutan tutupan” yang tidak boleh diolah dan terlarang bagi orang luar. Untuk mencapai tempat ini harus menyeberangi  Sungai Ciberang kemudian melintasi hutan dan perbukitan dengan kemiringan yang cukup tajam.
oo
Lokasi Situs Gunung Dangka

Rigg menyamakan bentuk bangunan itu dengan temuan sejenis di Pacific dan Madagaskar, hingga sangat mungkin budaya itu berasal dari Madagaskar.

Arca dan Lingga

5.   Situs Curugbitung

Situs Curugbitung terletak di dataran rendah, berasal di sembilan desa yaitu Desa Curugbitung, Cipining, Cidadap, Sekarwangi, Ciburuy, Cilayang, Mayak, Candi dan Guradog. Struktur bantuan kawasan merupakan satuan batuan beku yang terdiri dari andesit dan basal, sedangkan batuan sedimen adalah tufa, breksi vulkanik dan breksi sesar. Kenampakan singkapan batuan andesit dan basal tersingkap di sekitar air terjun (Curug) Bantahan di Sungai Cibeureum dan batuan tufa tersingkap di sekitar lereng Gunung Anakan atau Pasir Gadung, sementara batuan breksi terdapat di lereng Pasir Ruhkul. Tinggalan arkeologi yang tersebar di situs itu diantaranya :

5.1. Situs Candi

Situs Cadi terletak di Pasir Tarikolot Candi Desa Candi, lingkungan alam situs ini banyak ditumbuhi pohon karet, melinjo, aren, bambu dan lain-lain. Menurut informasi bahwa pada masa lampau di situs ini pernak terdapat patung bergaya polinesia dan sekarang disimpan di Museum Pusat (Krom, 1914). Di lokasi yang sama juga merupakan arela pertambangan bentonit dan tambang liar batu kalimaya. Adapun gejala arkeologis yang berhasil ditemukan adalah sebuah menhir yang terbuat dari bahan fosil kayu.

Situs Candi

Situs Cadi terletak di Pasir Tarikolot Candi Desa Candi, lingkungan alam situs ini banyak ditumbuhi pohon karet, melinjo, aren, bambu dan lain-lain. Menurut informasi bahwa pada masa lampau di situs ini pernak terdapat patung bergaya polinesia dan sekarang disimpan di Museum Pusat (Krom, 1914). Di lokasi yang sama juga merupakan arela pertambangan bentonit dan tambang liar batu kalimaya. Adapun gejala arkeologis yang berhasil ditemukan adalah sebuah menhir yang terbuat dari bahan fosil kayu.

5.2. Situs Batu Dakon

Situs Batu Dakon terletak di blok Pasir Nangka Kampung Cokel Desa Curugbitung, tepatnya di pekarangan SD Curugbitung Idi situs ini ditemukan dua buah batu dakon dengan posisi berjajar pada jarak ,75 m satu sama lain. Batu dakon I terletak di sebelah timur. dipermukaan batu dakon ini terpahat 27 buah lumpang. Batu Dakon II terletak di sebelah barat Batu Dakon I dan dipermukaan ini terpahat 10 buah lumpang, selanjutnya kearah barat laut  ditemukan sebuah batu andesit dari Batu Dakon II tepatnya pada jarak 11 m ditemukan sebuah batu andesit dengan ukuran panjang 80 cm, lebar 42 cm dan tinggi 45 cm.

ooo

Pada jarak 6,30 m kearah barat dari batu ini ditemukan pula batu andesit dengan ukuran besar panjang 190 cm, lebar 15 cm dan tinggi 85, di bagian ujung timur batu ini terbelah dengan membentuk celah selebar 10 cm, sedangkan pahatan batunya berukuran panjang 80 cm, lebak 42 cm dan tinggi 45 cm sehingga membentuk seperti kepala dari suatu bentuk fauna.

000

5.3. Situs Buyut Kuncung Amarullah

Situs Buyut Kuncung Amarullah merupakan komplek makan kuno yang dimanfaatkan hingga sekarang dan berada di Blok Pasir Nangka, Kampung Cokel dengan luas sekitar 4 Ha, tepatnya di sebelah timur jalan menuju Kecamatan Curugbitung dari Desa Candi. Di sebelah selatan situs ini mengalir sungai Cibuut yang merupakan anak sungai Cibeureum yang mengalir di sebelah timur, sebelah utara berupa lahan perkebunan. Makan Kuncung Amarullah dan pengikutnya terdapat pada bagian barat komplek makam. Di dalam komplek makam yang di pagar ini juga terdapat 8 makam lainnya, kesembilan makan tersebut telah dirubah secara keseluruhan. Di luar padar terdapat sebaran nisan berbentuk gada dengan kepala nisan bervariasi bentuknya seperti penampang segi empat, segi delapan dan bentuk kerucut, disini dijumpai kepala nisan gada polos dan berukir serta ditemukan pula adanya nisan dengan relief berbentuk lingkaran berjari-jari. Adapun lingkungan alam situs ini banyak ditumbuhi pohon karet, gandaria, kiara, kupa, pesar dan kemang, kondisi situs kurang terpelihara.

Nisan Tipe Gada, Situs Buyut Kuncung Amarullah

Di komplek makan ini setiap tanggal 10 bulan Muharam ada kegiatan tradisional berupa upacara/ritual “ngembang”, yaitu suatu upacara yang ditandai dengan pemotongan kerbau di makam Buyut Kuncung yang diikuti oleh 5 (lima) kampung lain, yaitu Kampung Cokel, Legok, Cokel Seberang, Leuwidamar dan Cilawang.

000

5.4. Situs Buyut Bangsa

Situs Buyut Bangsa mempunyai luas sekitar 1 Ha, merupakan komplek makam kuno yang hingga kini masih dimanfaatkan, posisinya di sebelah barat aliran sungai Cibeureum Kampung Cilawang Desa Sekarwangi. Makam Ki Buyut Bangsa sendiri berupa sebuah menhir yang terbuat dari fosil kayu dan berada di pinggir jalan yang menghubungkan Cokel Seberang dengan Desa Sekarwangi. Di areal ini juga ditemukan sekitar 26 buah nisan bentuk gada dengan kepala polos berukir.

       

5.5.  Situs Batu Patapaan

Situs Batu Patapaan berada di salah satu tebing batuan tufa yang curam di Pasir Patapaan Kampung Cilawang Desa Curugbitung, situs ini sekitar 200 m dari aliran Sungai Cibeureum Desa Curugbitung. Ceruk berada di sebelah timur aliran Sungai Cibeureum yang mengalir dari arah selatan ke utara. Posisi situs menghadap ke arah barat dan sampai saat ini masih sering digunakan untuk kegiatan pemujaan.

ooo

5.6. Situs Buyut Mangeuteung

Situs Buyut Mangeunteung berada di sebuah bukit kecil yang biasa disebt blok Mangeunteung. Sebelah timur situs berupa ladang penduduk, sebelah selatan berupa kebun yang tumbuh banyak pepohonan, sebelah barat berupa sawah, sebelah utara berupa ladang penduduk dan di ladang ini ditemukan temuan lepas berupa fragmen keramik dan alat batu. Informasi dari berbagai sumber, situs ini sering digunakan untuk pemujaan oleh orang-orang dari luar kampung. Sedangkan di sebelah utara ladang ini berbatasan langsung dengan aliran sungai Cicinta yang mengalir dari arah barat ke timur dijumpai banyak fosil kayu dan fosil kerang air tawar ditemukan di blok Cikaracak.

Menhir Buyut Mangeuteung

Di aliran sungai atau sekita 500 meter dari blok Mangeunteung terdapat sebuah batu yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai batu meja. Tinggalan arkeologis dari situs ini berupa tiga buah menhir dari bahan fosil kayu. Salah satu menhir yang dikeramatkan oleh sebagian masyarakat. Temuan lain berupa fragmen alat batu dan keramik.

5.7. Situs Kepanewuan

Situs Kepanewuan terletak di arah barat dari blok Mangeunteung, tepatnya di Pasir Muncrut Desa Curugbitung. Situs ini terdapat penanda dari sisa rumah panewu (Camat pada jaman Belanda) berupa pohon sawit besar dan lokasi ini sekarang difungsikan sebagai kebun yang ditumbuhi pohon rambutan. Tinggalan arkeologis yang berhasil dikumpulkan berupa fragmen keramk, fosil kayu dan alat batu. Informasi yang diperoleh, pada masa kolonial lokasi tersebut merupakan pusat pemerintahan kepanewuan Cokel. Setelah merdeka wilayah itu termasuk pada Kecamatan Sajira kemudian masuk wilayah Kecamatan Maja dan sekarang setelah terjadi pemekaran masuk ke wilayah Kecamatan Curugbitung.

5.8. Situs Makam Dalem

Situs Makam Dalem berada di Kampung Cijahi Des Curugbitung, lokasi terletak di sebelah selatan aliran sungai Cicinta, dilokasi ini dipenuhi oleh pepohonan, sedangkan gejala arkeologis yang ditemukan berupa makam yang letaknya di bawah pohon lame besar. Kedua nisan terletak berdampingan, makam pertama ditandai adanya nisan menhir berbentuk tidak beraturan dan cenderang berbentuk silindris dengan bahan fosil kayu, sedangkan makam kedua ditandai dengan nisan gada, bahan batu tufa. Oleh masyarakat setempat masih digunakan sebagai obyek untuk pemujaan (mengalap berkah) saat akan hajatan.

Situs Makam Mbah Dalem

5.9. Situs Makam Ciodap

Situs Makam Ciodap berada tidak jauh dari Makam Mbah Dalem sekitar 1,5 Km dan masih berada di kawasan Kampung Cijahi. Gejala arkeologis yang ditemukan di situs ini berupa penanda kubur berbentuk gada dan menhir dari fosil kayu (batu sempur). Oleh masyarakat setempat makam ini disebut juga sebagai makam Abdulah bin Adam.

5.10. Situs Batu Ruhkul

Situs Batu Ruhkul berada di kawasan blok Cinyandung Desa Curugbitung. Situs ini secara keseluruhan merupakan sebuah bukit berupa hamparan batuan breksi. Gejala arkeologis yang berhasil diidentifikasi dari situs ini berupa dua buah sumuran untuk menampung air yang terdapat pada bagian atas dari tebing batu. Oleh sebagian masyarakat setempat situs ini masih sering digunakan untuk kegiatan pemujaan.

Situs Makam Mbah Dalem

5.11. Situs Batu Cawenek

Situs Batu Cawenek terletak di komplek Batu Ruhkul dan berada di tengah-tengah perkebunan karet. Situs ini merupakan kumpulan dari batuan breksi yang bersusun seperti membentuk lingkaran dengan salah satu batu terdapat di tengah-tengah. Gejala arkeologis di lokasi ini tidak ditemukan, akan tetapi lokasi tersebut sering dipergunakan untuk kegiatan pemujaan.

ooo

5.12. Situs Gunung Anakan

Situs Gunung Anakan terletak di Pasir Gadung. Situs ini oleh masyarakat setempat dikela sebagai Sumur Tujuh yang dihubungkan dengan cerita tujuh bidadari turun mandi di situ tersebut. Topograpi situs ini merupakan sebuah bukit yang di bagian atasnya banyak batuan breksi besar-besar dan secara administrasi beradai di Desa Cipining. Gejala arkeologis yang ditemukan di situs ini adalah berupa lupang batu sebanyak 9 buah dan 2 buah diantaranya berisi air. Lumpang batu tersebut mengelompok dan terpahat pada batuan breksi yang berada di puncak Pasir Gadung dan biasa disebut Gunung Anakan.

Situs ini masih digunakan sebagai tempat pemujaan orang-orang tertentu. Kondisi lingkungan alam bukit ini di kelilingi oleh lembah dan di lembah sebelah tenggara dari bukit ini dihuni oleh penduduk kampung Ciongkek yang saat ini hanya berjumlah 20 rumah. Lereng sebelah timur terdapat teras-teras berundak berjumlah sekitar 15 buah.

5.13. Situs Buyut Prebun

Situs Buyut Prebun terletak di blok Berebes Desa Cipining, di sebelah barat daya situs mengalir sungai Ciberebes. Gejala arkeologis yang ditemukan adalah sebuah batu nisan tipe gada yang tertanam secara bersebelahan. Situs ini termasuk salah satu situs yang masuk dalam rangkaian upacara “ngembang” dengan kata lain masih digunakan sebagai obyel ritual oleh masyarakat setelah panen padi. Di sebelah utara situs terdapat perladangan masyarakat dan di areal tersebut ditemukan adanya sebaran berabah jenis perabot, alat batu dari bahan batu sempur dan serpihan batu rijang.

5.14. Situs Buyut Omas

Situs Buyut Omas terletak di Kampung Cidadap Desa Cidadap serta berada di sebelah timur aliran sungai Cibeureum. Situs ini oleh sebagian masyarakat masih dikeramatkan dan sering digunakan untuk kegiatan upacara pemujaan. Lingkungan situs ditumbuhi oleh pohon-pohon besar dan gejala arkeologis yang berhasil ditemukan adalah empat buah menhir dengan bahan fosil kayu dan sebuah makan dan berupa batu perkutor yang teronggok di makam serta sebuah fragmen keramik biru putih.

Sebaran Menhir di Situs Buyut Omas 

5.15. Situs Keramat Cidadap

Secara administrasi Situs Keramat Cidadap berada di wilayah Desa Cidadap dan situs ini terletak pada meander sungai Cibeureum yang mengalir dari arah selatan ke timur dan terdiri dari 9 undak / trap. Situs ini masih digunakan oleh sebagian masyarakat untuk melakukan aktivitas berupa ritual pemujaan. Di teras atas terdapat 5 buah menhir yang terbuat dari bahan fosil kayu. Temuan arkeologis lainnya berupa fragmen keramik asing (Cina) berwarna putih dengan hiasan flora warna biru. Lingkungan alam situs ini berupa perkebunan karet dan tanaman lainnya.

5.16. Situs Curug Bantahan

Penampang Curug Bantahan di aliran Sungai Cibeureum

Pahatan Lumpang Batu di Curug Bantahan

Situs Curug Bantahan termasuk wilayah Desa Cidadap, situs ini terletak di aliran sungai Cibeureum memanjang sekitar 50 meter atau menghubungkan sisi sungai sebelah selatan dan sebelah utara. Curug alam ini mirip sebuah bendungan yang membentang arah utara selatan, sehingga oleh masyarakat setempat dikaitkan dengan cerita legenda Sangkuriang. Gejala arkeologis yang ditemukan di curug ini adalah terdapatnya 68 buah lumpang batu yang terpahat di sepanjang batuan breksi yang menjadi bandungan. Pada saat ini situs sering dikunjungi oleh kawula muda untuk kegiatan wisata.

5.17. Situs Cikapenta dan Ciemas

Situs Cikapenta dan Ciemas terletak berdampingan dan secara administrasi situs ini terletak di blok Cikapenta Desa Curugbitung, geografis situs berundak-undak serta merupakan lahan tumpangsari penduduk yang ditanami pohon karet dan tanaman pangan lainnya. posisi situs berada di sebelah utara aliran sungai Cicinta dan berseberangan dengan Situs Mangeunteung.

 Fragmen Keramik Cina di Situs Cikapenta  

Gejala arkeologis yang berhasil ditemukan adalah berupa sebaran fragmen keramik Cina, gerabah, alat batu dari fosil kayu dan pecahan rijang. Informasi dari tokoh masyarakat di situs ini pernah ditemukan benda terbuat dari emas dan pada masa penjajahan sering digunakan untuk tempat pengungsian.

5.18. Situs Rangga Wulung / Hutan Larangan

Situs Rangga Wulung / Hutan Larangan mempunyai luas sekitar 10 Ha, terletak dalam wilayah Kampung Cokel Desa Cokel. Situs ini merupakan suatu lahan perkebunan karet dan oleh pemerintah setempat diizinkan untuk digarap oleh masyarakat dengan syarat dilarang untuk diperjual belikan.

Gejala arkeologis yang ditemukan adalah berupa sebuah menhir dari fosil kayu, masyarakat setempat menyebutnya sebagai makam Rangga Wulung. Di sebelah barat laut hutan larangan mengalir sungai Cikerti yang merupakan anak sungai Cibeureum, sedangkan sebelah selatan berupa lahan sawah Ciastana yang memanjang sampai ke keramat Buyut Santri.

p

5.19. Situs Buyut Santri / Keramat Ciastana

Situs Buyut Santri terletak di wilayah Kampung Leuwidulang Desa Sekarwangi. Di sebelah barat situs ini tampak adanya parit pembatas dengan pemukiman penduduk yang kering di musim kemarau, sekitar 200 meter kearah barat daya tepatnya di sekitar sawah Ciastana ditemukan fragmen gerabah dan keramik asing berwarna putih dengan hiasan flora berwarna biru serta fragmen gerabah. Gejala arkeologis lainnya yang berhasil ditemukan adalah berupa kumpulan 7 buah menhir yang terbuat dari fosil kayu dan disusun secara melingkar, menhir pertama berada di tengah-tengah (menhir pusat) dan 6 menhir lain mengelilinginya.

Menhir pertama dan menhir yang berada di sebelah utaranya saat ini telah disisipi dengan nisan kubur sedang bentuk menhir aslinya tetap dipertahankan. Selanjutnya sekitar 500 meter ke arah utara mengalir sungai Cibeureum dari arah timur ke barat. Di aliran sungai ini tepatnya di tengah aliran terdapat batu besar yang disebut sebagai batu banter.

Menhir tersusun melingkar di Situs Buyut Santri

5.20. Situs Buyut Kumba

Situs Buyut Kumba berada dalam komplek makam kuno kampung Leuwidulang Desa Sekarwangi yang menempati lahan sekitar 1 Ha. Keramat Buyut Kumba berjarak 26,10 meter ke arah timur dari Buyut Santri. Situs berupa kumpulan 14 menhir dari fosil kayu yang tersusun memusat. Temuan lain berupa nisan kubur yang berjumlah sekitar 14 buah.

Nisan dari Makam Buyut Kumba

salah satu Menhir di Situs Buyut Kumba

5.21. Batu Banter

Batu Banten terletak sekitar 500 meter dari Situs Buyut Santri, obyek berada di tengah-tengah aliran sungai Cibeureum di Kampung Leuwidulang Desa Sekarwangi. Gejala arkeologis pada batu ini belum ditemukan karena kondisi batu pada saat penelitian berlangsung penuh tertutup oleh timbunan sampah dan pasir.

6. Situs Ciwongwongan

Situs Ciwongwongan terletak di Kampung Gunung Julang Desa Lebaksitu Kecamatan Cipanas, di sebuah lahan hutan lindung di sebelah selatan situs mengalir Sungai Ciupih. Secara keseluruhan sebagian besar situs sudah hancur, bagian yang tersisa berupa serakan batu kali, bongkahan batu andesit dan sisa-sisa pondasi bangunan, Lingga – Yoni dan Arca Nandi.

Sketsa Lingga dan Yoni

Sumber : digambar ulang dengan  perubahan  dari Sumber Inventaris dan Dokumentasi Peninggalan Sejarah Purbakala, Jawa Barat 1990

Lingga dan yoni masih saling terkait satu sama lain, tertutup lumut dan agak aus. Pada tepian atas yoni terdapat hiasan tengkorak, hingga hingga masyarakat setempat menyebut situs ini wongwongan yang berarti orang-orangan. Situs Gunung Julang tercatat dalam ROD 1914.63, dalam laporan itu disebutkan adanya arca Nandi, namun arca itu sekarang sudah hilang.

ooo

Sumber : Dok. Balai Arkeolog, Bandung 2005, Dokumentasi Tim Peneliti Sejarah Kabupaten Lebak, 2006.

Comments
  1. I have recently started a website, the information you provide on this web site has helped me greatly. Thanks for all of your time & work. “There can be no real freedom without the freedom to fail.” by Erich Fromm.

  2. Dadi Alfarid says:

    Ternyata di Lebak kaya akan sejarah yang mungkin tidak semua orang Lebak tahu, jadi ingin tahu lebih mengenai sejarah Lebak dan mengunjungi tempat-tempat tersebut………

  3. sujatmiko says:

    Sangat luar biasa tinggalan arkeologis di Kabupaten Lebak ini. Sayang sekali bahwa Kepala Daerahnya lebih mendahulukan membangun stadion yang biayanya ratusan milyar daripada memberdayakan dan mengembangkan kekayaan arkeologis ini untuk tujuan wisata. Jutaan wisatawan insyaallah akan berkunjung ke kawasan ini. Masyarakatnya insyaallah akan makmur berkelanjutan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s